mulut sulit berbicara pun jari sulit mengungkap kata lalu cara apa lagi yang dapat menghubungkan cerita?
mungkin untaian nada dapat mengungkap rasa mungkin rangkaian kata dapat menyalurkan emosi mungkin coretan garis dan warna dapat menyatakan asa
namun satu.. bukan diam yang dapat menyampaikan itu semua buram ambigu ragu itu yang hadir ketika bisu menemani
di sini aku menanti menunggu sapa yang entah kapan hadir memang bukan rutinitas yang aku pinta tapi jika memang itu yang paling mungkin tersedia, sepertinya tak apa.
Depok, 10 Nopember 2010 20:45 hening walau ramai menyesaki
lisan ku kadang tak mampu berkata
maka ku sampaikan melalui tulisan
namun banyak memungkinkan salah makna
maka, ku pilih sunyi yang menemani
...
namun ternyata sunyi memiliki banyak arti
Malam ini hatiku penuh oleh rindu, degup, hangat, juga rasa Kau yang sebabkan itu semua Semua itu karena mu dan untuk mu Terima kasih walau ini bukan maksudmu :) 20:40
Terasa seperti ini jatuhku yang pertama pada mu Banyak degup, debar, ragu, dan tanya Haruskah ini selalu ku alami tiap ku temui dirimu? Padahal ini temu sekian dengan mu 20:45
Sudahlah..
Berkali-kali ku rasakan pun tak mengubah apa-apa
Aku tetap sama tidak mendekat
Kau pun sama makin menjauh
Tak apa, biar kurasakan semua ini sendiri dengan hati tetap senang
20:48
Walau tetes ini menurun aku masih bisa tersenyum bercerita tentang mu
Bukan karena apa
Tapi ku menikmati miliki rasa ini
Tanpa balas memang..
Tapi apa boleh buat, hati ini masi terpaut pada sosokmu
ngga tau kenapa tiba-tiba nulis ini sekarang..
mungkin karena liat dia kemarin siang setelah sekian lama ngga kedengeran kabarnya..
mungkin karena kangen *sedikit* sama dia..
mungkin karena belum bisa bener-bener ngelupain menganggap dia sama semerti yang lain..
mungkin ketiganya benar..
entahlah..
Untuk mu yang mungkin tak membaca ini
Harusnya kau sudah ku lupa.
Harusnya kau sama seperti yang lain.
Harusnya ingin tau ku tentangmu tak ada lagi.
Harusnya kau bukan apa-apa untuk ku lagi.
Harusnya kau tak muncul dalam pikir ku lagi.
Harusnya pintu ini sudah terbuka untuk yang lain.
Tapi kau masih ada.
Di pikir ku. Di rasa ku. Di hati ku.
Lelah.
Putaran hari. Hitungan minggu. Bilangan bulan.
Tak ada kabar mu datang pada ku.
Tak pula ku coba mencari kabar mu.
Tak ada diri mu dalam pikir ku.
Namun..
Tanpa kata saling bersambut.
Tanpa tegur saling menyapa.
Tanpa mata saling pandang.
Tanpa senyum saling tersimpul.
Hanya karena sosok mu tertangkap dalam area pandang ku.
Hanya beberapa menit. Hanya itu.
Semua kembali.
Bahkan timbul tanya dari yang lain.
"Na, ada apa dengannya hingga seperti ini?"
Tak ada jawaban.