sebenernya ampe pertengahan akhir gw baca novel ini merasa ngga ada quotes yang ampe menohok banget. tapi gw suka secara keseluruhan ceritanya, inti/ fokus ceritanya dari yang gw tangkap *gw ngga mau bilang, terlalu curcol :p*.
tapi setelah selesai baca, ada juga quotes yang gw garis bawahi :)
"Biarkan dia pergi. Cintamu akan mencari jalannya sendiri... memilih orang yang telah sengaja dipilihkan Tuhan buat kamu."sama yang ini..
"Rasa cemburu yang nggak ada dasarnya bisa menghilangkan sebuah kesempatan."ini dialog si Sangga ke Puti. jadi ceritanya karena Puti, tokoh utama cewenya, dan Sangga, tokoh utama cowonya, pada saling gengsi untuk memulai hubungan lagi. Puti gengsi karena sebelumnya dia benci setengah mati sama Sangga. sedangkan Sangga gengsi karena sebelumunya dia udah ditolak sama Puti.
tapi akhirnya Sangga yang 'maju' duluan. hohoho..
biar ngga terlalu ngebingungin, nih gw kasih sinopsis yang ada di belakang bukunya..
Puti Ranin berang sekali ketika Sangga Lazuardi menyerangnya di ruang publik, di koran. Sangga mengejeknya sebagai katak dalam tempurung yag mencoba berceloteh tentang dunia! karena berani memberi penilaian terhadap lukisan tanpa pengetahuan yang memadai.novel ini ngebahas tentang dunia seni, khususnya seni lukis. walau bukan menjelaskan secara teknik, sejarah, atau alirannya secara lengkap. tapi lebih ngelihat dari sudut pandang si Puti yang ngeliat lukisan secara awam. mencoba 'menangkap' isi tersirat lukisan itu. ngga nyusahin lah buat yang awam banget sama dunia per-seni lukis-an, kaya gw :p
Bah! Dia memang awam dalam soal seni, seni lukis khususnya, tapi apakah itu berarti dia tidak boleh mengapresiasi sebuah karya? Ddan baginya, lukisan Pring menyentuh kalbunya. Sangga Lazuardi sangat pongah. Kesombongan lelaki itu membuat Puti mati-matian membela dan menganggumi Pring, pelukis yang dicela Sangga.
Namun yang tidak dimengertinya... Sangga Lazuardi selalu muncul dalam setiap langkah hidupnya.... Bagai siluman, Sangga selalu muncul di mana pun dirinya berada. Apa yang diinginkan lelaki yang telah meghinanya habis-habisan itu?
selama baca novel ini gw selalu berusaha menebak-nebak rahasia apa yang sebenernya terjadi. pas di awal-awa baca gw selalu mikir: kenaoa begini. kenapa begitu. apakah si Sangga ternyata begini? apakah ternyata si Pring begitu? agak sedikit mengurangi keasyikan membaca. sampe akhirnya makin banyak yang gw tebak-tebak dan belom kejawab-jawab juga, akhirnya gw nyerah dan ya sudahlah gw baca secara 'ngalir' aja.
jadi makin menghayati dan terhanyut deh ama ceritanya :')
tapi ada cerita dari novel ini yang.... mm kurang gw suka.
di cerita ini Puti punya sahabat cewe sama Ina. tapi persahabatan mereka sempet berantakan sedikit karena Ina ngga percaya sama si Puti, sahabatnya sendiri. gw jadi sebel banget sama si tokoh Ina ini. bikin gw ikutan kesel sama Ina-nya *hahahaha..terlalu menghayati gini nih :p*.
terus gw kan baca novel ini pas lagi di rumah Farah, tepatnya di kamarnya yang sharing sama adeknya, Nisa. selesai baca, meresapi isi bacaan sambil ngeliat ke sekeliling kamar. ada lukisan adeknya. terus sebagai orang awam gw ngerasa 'nangkap' sesuatu.
ngga usah dibahas lah apa yang gw 'tangkap' itu. tapi dari situ gw jadi inget sama pembahasan di kelas PenPsiSos *aaahhh si-mata-kuliah-paling mengesankan-di-semester-7 ini :')*. kerjaan mahasiswa di mata kuliah ini kan nge-review jurnal, terutama, selain bikin proposal penelitian. gw inget kata dosen gw,
"kita ngga harus tahu secara menyeluruh metode statistik yang dipake si peneliti. tapi kita masih bisa memahami apa yang dicari, apa maksud dari penelitian.dan ini bisa dikaitin ke semua hal (kayanya).
istilahnya kaya kita masih bisa menikmati hidangan tanpa kita harus bisa masak hidangan itu, kan?!"
kita ngga harus bisa bikin lukisan yang sama untuk bisa menikmati dan menangkap pesan tersirat dari lukisan yang kita lihat itu.itu aja. boleh lo kalo ngga setuju ;)
naaah.. mari lanjut ke novel selanjutnyaaaa :D
No comments:
Post a Comment