secara keseluruhan gw suka sama ceritanya. ngebahas banyak tentang konflik di Indonesia atau di luar negri. ngga ngebahas tuntas. tapi lumayan nambah wawasan. nambah wawasan juga tentang dunia perjurnalistik-an. terkait bencana atau dari segmen kriminalitas. soalnya sedikit masukin tentang kode-kode yang dipake polisi tentang teroris gitu.
cuma agak bingung sama alur ceritanya. gw bingung mana sudut pendang yang dipake penulis. apakah sudut pandang orang pertama atau ketiga atau penulis yang serba tahu *itu bukan jenis-jenis penulisan dari pelajaran bahasa Indonesia di SMA?*.
tapi masih bisa gw nikmati lah keseluruhan isinya.
dan seperti biasa, ada bagian-bagian yang gw suka :)
tentang gender perempuan dan lelaki..
cuma agak bingung sama alur ceritanya. gw bingung mana sudut pendang yang dipake penulis. apakah sudut pandang orang pertama atau ketiga atau penulis yang serba tahu *itu bukan jenis-jenis penulisan dari pelajaran bahasa Indonesia di SMA?*.
tapi masih bisa gw nikmati lah keseluruhan isinya.
dan seperti biasa, ada bagian-bagian yang gw suka :)
tentang gender perempuan dan lelaki..
Anak perempuan tidak selalu harus bermain boneka dan anak lelaki tidak harus selalu bermain pistol. Menjadi maskulin bukan sesuatu yang membanggakan bagi rembulan, sama halnya menjadi feminin tidaklah selalu memalukan bagi matahari..
tentang bagaimana memandang hidup..
"... Kenapa harus ngotot? Sehari-hari hati kita ini sudah cukup berat karena persoalan-persoalan dengan sesama manusia, janganlah ditambah dengan prasangka buruk kepada Allah juga..."
tentang apa yang perempuan mau dari lelaki..
Santi masih tertawa. Satu lagi kesan tiba-tiba muncul di kepalanya. Anak muda ini, meskipun perutnya tidak six pack, dia punya semua yang dibutuhkan oleh perempuan. Tidak banyak laki-laki yang bisa membuat seorang perempuan tertawa, kecuali kalau dia memang badut. Dan, Senja bisa meski bukan badut.
tentang apa yang dipikir lelaki..
Senja merasa ada yang berubah dari sikap Santi. Itulah untungnya menjadi lelaki. Engkau selalu dibekali antena gaib untuk menangkap sinyal-sinyal tak terduga. Psikolog karbitan menyebutnya dengan dua istilah. GR.
dan kutipan random aja..
"Semakin jauh kamu dari rumahmu, semakin kamu kehilangan perlawanan..."
ada juga tentang pengharapan..
"Lo nggak tahu sakitnya berharap, Ja!"
"Berharap itu nggak sakit. Kalo nggak kesampaian, baru sakit...."
lanjut baca novel lain, mmm... mungkin ngga dalam waktu dekat. sesuai waktu sama mood aja kayanya ;)
No comments:
Post a Comment