
i'm reading a novel. then i read this dialogue. and just cannot wait to write this..
"Lo juga termasuk orang yang gue percayai. Rasanya lo satu-satunya lelaki yang bisa gue percaya saat ini."gw hanya merasa tertohok. sangat. dengan dialog antara Krisna dan Wina ini. secara keseluruhan. terutama bagian yang gw bold.
"Terus, kenapa lo takut bergantung sama gue"
"Kris, gue ini belom lo kenal betul. Kalo gue udah tergantung sama lo, dan begitu lo tahu aslinya gue terus lo mau pergi dari gue, gimana?"
Krisna mengernyitkan dahi. "Elo gila ya, Win. Lo harus ubah paradigma berpikir lo itu. Hidup itu bukan untuk diprediksi. Jalanin aja. Kalau kecewa, ya nggak papa. Namanya juga orang hidup. Begitu juga cinta dan kepercayaan. Lo harus belajar ngasih kepercayaan tanpa takut kehilangan kepercayaan. Kalo kemudian orang yang lo kasih kepercayaan itu nggak bisa dipercaya, itu bukan salah lo. Kalo kemudian lo sedih, merasa dikhianati, ya itu wajar. Sedih, kecewa, marah, itu biasa, Win. Yang nggak biasa adalah kalo kita nuntut orang untuk nggak bikin kita sedih, kecewa, atau marah. Emang lo pikir semua tindakan lo bikin orang bahagia? Senang? Puas? Nggak. Ada yang kecewa. Ada yang sedih. Ada yang marah sama lo. Ada yang pengin bikin lo kecewa, atau sedih, atau marah. Ya itu biasa! Namanya manusiawi, Win. Kita ini kan manusia. Yang kita hadapi juga manusiawi. Mau menghindari kekecewaan? Kesedihan? Kemarahan? Ya nggak bisa."
ada lagi dialog yang lain..
"Danang... gue sudah memperingatkan elo."ini dialog antara Denis dan Danang. tapi bisa banget jadi pembelajaran gw.
"Gue udah bilang, gue rela jadi korban. Ini risiko mencintai elo. Dan gue akan jalani itu. Sekali lagi gue katakan, gue menjamin elo akan melupakan orang itu. Asal elo mau membuka hati lo buat gue..."
...
"Gue akan telepon elo nanti ya, Dan. Gue nggak bisa memutuskannya sekarang. Gue harap elo mengerti. Gue cuma nggak ingin salah bicara dan salah memutuskan, supaya kita nggak menyesal nanti," kata Denis akhirnya.
"Gue setuju. Tapi gue ingin elo tau, gue nggak pernah takut menyesal, jika benar gue nanti harus menyesal. Gue nggak takut. Gue akan hadapi itu sebagai resiko."
ternyata selama ini gw terlalu terburu-buru, kurang bersabar, dan kurang berpikir panjang.
ini juga pembelajaran yang gw dapet setelah sedikit ngobrol sama 'si bapak'. udah lama ngga cerita, sekalinya cerita langsung ngomongin ini dan dapet insight-nya. makasih, Lik ;)
di novel ini gw juga baru tau ada permainan Tebak Rasa Mau Apa.
gini contoh permainannya..
"Kalau gitu, elo tanya deh duluan," kata Krisna lagi.hahaha.. cinta-cintaan-thigs. udah gitu norak kaya mainan SD *seperti yang dibilang di novelnya*. tapi kayanya seru. lain kali gw praktek-in aaaah.. :p
"Oke. Tebak deh, gue merasa apa dan mau apa?" tanya Wina.
"Elo merasa cinta gue, dan mau membalas perasaan gue. Betul?"
*maaf cuma ada satu contoh :D*
dari novel ini banyak yang bisa dipelajari.
tentang rasa kehilangan, tentang mau-melupakan-masa-lalu, belajar ikhlas, membuka hati, membuat keputusan, dan banyak lagi.
yes, i've learnedgw ngga bisa menjelaskan satu-per-satu. i'll let you find it by reading it self.somemany things.
lagipula, mungkin aja yang nanti kita pelajari akan berbeda.
by the way.. gw ngga menyesal membeli novel ini :D
seperti kutipan dari novel ini *lagi*,
"Timing is everything, man!":D
*taken from a novel Rembulan Gading by Sari Safitri Mohan
**picture's source
men! menohok banget naaaa..
ReplyDeletesangat, teh. sangaaaaatt..
ReplyDeleteterutama tentang kepercayaan dan cinta itu. sumpah gw mesti banget belajar ttg 'saling percaya dan saling cinta'. ehehehe..
wuideeehhh...... jadi semakin semangat mencintai... hahaahaha :D
ReplyDeleteaiiiiiiiiihh.. semakin mencintai siapa ni, di? ;)
ReplyDeletebeuh nanae. kadang meskipun risikonya besar, kita tetep nekat buat cinta.
ReplyDeletebtw, gw suka yang 'Tebak Rasa Mau Apa'. hahaha, kocaaak :D
mungkin gw belum tau resikonya apa dan belum siap ngambil resikonya, cil :) *senyum miris*
ReplyDeletemain buat di Jakarta bisa ga tuuh? hehehe