Pages

December 1, 2010

langit malam dan si kucing mungil

***
hmm.. malam ini kamarku terasa lebih panas dibanding biasanya. padahal angin sejuk sudah berhembus dari kipas angin yang sudah dinyalakan dari tadi. atau mungkin aku memang sengaja ingin keluar kamar. mencari teman bicara.

ku tengadahkan kepala melihat langit, bintang tidak ada yang terlihat. padahal ku kira aku bisa mencari teman di antara banyaknya benda langit itu.

selang berapa lama, dia datang. dari anak tangga paling atas terlihat melangkah dengan melompat kecil. wah, sepertinya dia sedang bersemangat. ku pikir boleh juga jika ditemani dia.
"halo kucing kecil. apa yang akan kamu lakukan di atas sini? mau menemani aku, ya?"
kalimatku terasa ada pengharapan. namun tanpa menunggu apapun, aku julurkan tangan untuk mengelusnya. kucing suka dielus, kan? terutama di bagian leher!? hihi.. dia lucu sekali. tapi tidak lama aku mengelusnya, ia meliukkan badannya, seperti tanda tidak puas.
"kamu mau dielus dimana lagi, mungiil..?"
lho, dia malah mulai memain-mainkan jemariku. dicolek-colek dengan tangannya yang kecil dan memiliki sedikit cakar. sempat digigit, uups! kaget juga. malah sempat dijilatnya jariku.
"hahaha.. geli, mungiil.."
sambil menahan geli, aku biarkan si mungil ini memainkan jemariku. ternyata benar lidah kucing kasar seperti amplas. tapi toh tidak melukaiku. begitupun dengan gigitannya. tidak akan melukaiku.
dasar kucing mungil, tidak tahan berapa lama, ditinggalkannya jemariku menggantung, sepertinya dia sudah bosan bermain dan mulai menjelajah ke tempat lain.
tidak berapa lama, dia kembali lagi padaku. memainkan ujung bajuku. dengan posisi berjongkok seperti ini, malah dia mencoba menggapai bagian atas pundakku. sesekali cakarnya terasa di pundakku. ah tapi terasa tidak menyakitkan kok. maka ku biarkan saja.
sekali lagi dia merasa bosan dan meniggalkanku lagi.

baiklah, aku juga tadinya hanya sendiri bermain dengan malam, mencari bintang-bintang.

kali ini aku mencari tempat yang lebih sedikit terbuka. aku ke beranda depan kamar yang lain. mencari dudukan yang agak nyaman dan dengan pasti aku dudukkan diriku di beranda. sekali lagi ku tengadahkan kepala ke atas. memastikan benda-benda langit, apakah mereka hanya tersembunyi dari atap yang lain atau malam ini mereka memang tidak ingin memperlihatkan diri mereka. membiarkan aku terus mencari.

si kucing kecil ikut naik ke atap yang memang bersinggungan dengan beranda tempat aku duduk.
hihi.. dia terlihat mau menjelajahi daerah barunya itu. terpikir untuk ikut bermain dengannya, aku julurkan handuk kecil yang dari tadi ku bawa-bawa. kucing juga suka bermain dengan benda-benda yang menggantung dan bergerak, bukan?!

karena permukaan atap yang miring, si mungil malah tidak berminat dengan "mainan" yang kutawarkan. dia lebih berhati-hati untuk memilih langkah memijakkan kakinya.
hmm.. baiklah aku tidak akan mengajaknya bermain di atap ini. sekarang aku biarkan saja diriku memandang langit malam yang gelap, tanpa bulan ataupun bintang satupun. kali ini sepertinya awan ingin menunjukkan gelapnya malam padaku.
tapi rasanya menyenangkan juga seperti ini. menikmati angin malam yang sejuk. angin alami. bahkan aku tidak merasa takut dengan gelapnya malam yang tersaji. sesekali membayangkan mungkin akan ada 'banyangan lain' yang muncul. hahaha.. aku memang sebenarnya penakut. tapi sudahlah, jangan membayangkan yang aneh-aneh.

hmm.. terasa kaku duduk di beranda ini tanpa sandaran. mungkin malam ini sudahlah.
lalu aku turun dari tempat dudukanku di beranda. wah, si mungil masih ada. kali ini dia tiduran di anak tangga paling atas. aku menuju tempatnya tersebut, ingin mengajaknya bermain.
"halo lagi mungil.. masih betah di atas sini. main sama aku yuuk.."
kali ini aku julurkan lagi handuk yang tadi, berharap dia mau bermain-main.
aneh. dia tetap tidak mau bermain dengan benda menggantung yang bergerak ini.
kembali aku julurkan jemariku dan dia langsung tertarik. apa bedanya ya jemariku dan handuk tadi? apa terasa berbeda yang satu tidak bernyawa dan terlihat palsu dibanding yang satunya? dan si mungil menyadari itu?
entahlah, aku lebih menikmati bermain dengan si mungil daripada harus memikirkan alasannya.

hihihi.. sensasi geli ku rasakan kembali. tapi lagi-lagi ku biarkan. terasa geli tapi juga terasa menyenangkan. hahaha..
bosan dengan jemari tangan, dia beralih ke pergelangan kakiku. sempat dicakar, digigit, dan dijilat juga. sensasi yang sama masih ku rasakan. tapi sesekali, gigitannya terasa sedikit lebih sakit. wah, kamu tidak bermaksud menggigit dagingku, kan mungil?

hmm.. ada gatal lain. banyak nyamuk yang dari tadi menggigitku.
"mungil, sudah dulu yaa. aku mulai tidak betah dengan nyamuk-nyamuk ini. aku masuk kamar lagi yaa. dah, mungiil.."
aku kembali ke kamar.
***

*ini mungkin hanya sekedar cerita di malam hari. memunculkan diri di antara sempitnya waktu yang tersedia. hanya untuk berbagi rasa dan pikiran :)

2 comments:

  1. nice story.. hehehhe.. sering2 aja na bikin beginian

    ReplyDelete
  2. sebenernya analogical, nda :p
    tapi pas banget ama kejadian tadi malem :D

    ReplyDelete

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...